Kesulitan Mencari Kerja, Gen Z Beralih Jadi Tukang Las dengan Penghasilan Rp1,6 Miliar

Di tengah kekhawatiran banyak pekerja muda akan potensi ancaman pekerjaan yang digantikan oleh kecerdasan buatan (AI), ada kisah inspiratif dari Joseph Paredes. Ia memilih menekuni keahlian pengelasan, melewatkan bangku kuliah demi mengejar impian dan kestabilan finansial yang lebih baik.

Paredes, yang berusia 26 tahun, berhasil meraih penghasilan tahunan hingga US$100.000, yang setara dengan Rp1,6 miliar. Dengan penghasilan tersebut, ia mampu membeli rumah dan menafkahi keluarganya meskipun harus mengatasi tantangan biaya pendidikan yang memberatkan.

Usai bekerja sebagai teknisi listrik yang memerlukan mobilitas tinggi, Paredes memutuskan untuk beralih ke dunia pengelasan. Pilihan ini didorong oleh keinginan untuk memiliki keseimbangan waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Pegiat Bisnis dengan Keahlian Las yang Mumpuni

Joseph Paredes memiliki etos kerja yang tinggi dan kemampuan belajar yang cepat. “Saya coba, dan ternyata cocok,” kata Paredes mengenai pengalamannya memasuki dunia las.

Ia merasa optimis mengenai prospek karirnya, meskipun banyak yang khawatir akan dampak AI. Paredes berpendapat bahwa meskipun otomatisasi telah hadir, peran manusia tetap diperlukan untuk menjaga kualitas pekerjaan.

“Kita masih butuh orang fisik, manusia, supaya robot-robot itu bisa bekerja,” ujar Paredes, menekankan pentingnya keberadaan pekerja manusia dalam industri yang semakin teknologi-sentris.

Kekhawatiran Masa Depan Pekerja Muda Terhadap AI

Sejalan dengan pandangan Paredes, sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos pada 2025 menunjukkan bahwa mayoritas orang di AS khawatir AI dapat menghilangkan banyak lapangan pekerjaan. Perasaan ini turut mendorong minat terhadap pekerjaan yang lebih sulit untuk diotomatisasi, seperti pengelasan, plumbing, dan landscaping.

Studi dari Pearson menyebutkan bahwa AI dapat mengambil hingga 46% tugas dalam pekerjaan kerah putih pada tahun 2032. Dalam waktu bersamaan, sektor kerah biru yang lebih terdampak diperkirakan hanya menghadapi pengurangan sebesar 27% dari total tugas yang ada.

Ini menunjukkan bahwa pekerjaan berbasis keterampilan fisik dan teknis berpotensi lebih “aman” di masa depan, memberikan jaminan bagi mereka yang terampil.

Strategi untuk Menghadapi Tantangan Kelestarian Karir

Penasihat keuangan dari Connecticut, Bill Shafransky, mengungkapkan bahwa kekecewaan anak muda terhadap dunia kerja telah ada sebelum hadirnya AI. Peningkatan otomatisasi dalam berbagai industri sangat cepat, sehingga penting untuk memperhatikan perkembangan ini dan melakukan penyesuaian sebelum lapangan kerja terlalu padat.

Pertama-tama, tidak semua pekerjaan dapat tergantikan oleh AI. Pekerjaan seperti pengelasan dan plumbing lebih sulit untuk diotomatisasi, memberikan jaminan ekonomi yang lebih baik bagi pelakunya.

Kedua, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi tujuan utama bagi banyak orang. Apabila pekerjaan membuat kehidupan pribadi tergerus, wajar untuk mencari alternatif yang lebih selaras dengan kebutuhan individu.

Pentingnya Jalur Nontradisional dalam Pendidikan dan Karir

Ketiga, jalur pendidikan nontradisional patut dipertimbangkan oleh para pekerja muda. Pendidikan tinggi bukan satu-satunya cara untuk mencapai mobilitas ekonomi yang diinginkan, dan bagi mereka yang ingin cepat bekerja, keahlian teknis seperti pengelasan bisa menjadi pilihan yang bijak.

Pekerjaan keahlian ini menawarkan stabilitas jangka panjang dan memungkinkan seseorang untuk memulai karir tanpa membebani diri dengan utang pendidikan yang besar.

Dengan berbagai pilihan yang ada, penting bagi generasi muda untuk mempertimbangkan jalan yang sesuai dengan aspirasi dan situasi mereka. Dalam keadaan dunia kerja yang terus berubah, adaptabilitas dan pemilihan jalur karir yang tepat menjadi kunci untuk mencapai kesuksesan.

Related posts